BERITA TERBARU

Gegap gempita dan riuh gemuruh menjelang pesta demokrasi yang sudah di depan mata kini lebih terasa dikampung kampung di kawasan danau toba. Peserta dan Penyelenggara Pemilu sudah mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk menghadapi Pemilu 2019 demi terlaksananya pemilu yang luber dan jurdil sesuai amanah UUD 1945.  Hasil pemilu yang "indah" adalah impian kita semua sehingga menghasilkan pemimpin maupun legislatif yang bersih, amanah dan tidak arogan.

Pemilu legislatif merupakan sarana penunjang dalam mewujudkan sistem ketatanegaraan secara demokratis. Pemilu pada hakikatnya merupakan proses ketika rakyat sebagai pemegang kedaulatan memberikan mandat kepada para calon pemimpin untuk menjadi pemimpinnya. Namun, dari sekian lama berjalan masa kampanye dan kontestasi pemilu lagislatif tinggat 2 di kabupaten Tapanuli Utara dan hampir seluruh kabupaten di kawasan danau toba, terlihat minim kualitas. Adu kekuatan financial, hingga show off harta, kekayaan hingga barang-barang fisik adalah aroma yang paling menonjol ketika anda berkesempatan melihat apa yang terjadi sesungguhnya.  

Aroma money politik yang sama sekali tidak mendidik dipertontonkan secara kasat mata.  Bahkan dalam setiap even kegiatan pesta maupun acara perayaan natal.  Kita tidak perlu heran ketika dalam sebuah acara perayaan natal dalam di sebuah gereja, panitia secara khusus menyiapkan kursi sofa yang sangat empuk di posisi paling depan bagi para caleg, dengan harapan saat ada acara lelang, maka para caleg ini menjadi sumber rebutan penjualan lelang-lelang yang dipersiapkan panitia.  Kursi sofa yang semestinya adalah tempat bagi mereka yang menjadi penghulu, mereka-mereka yang telah menunjukkan prestasi bagi kampung halaman atas bidang apa pun namun justru ditempati oleh mereka-mereka yang belum tentu atau kelihatan abdi dan budinya bagi kemajuan daerahnya.

Selain itu pertunjukan alat peraga sudah mengarah pada show off kemampuan financial.  Tidak salah baru kali ini ada pemilu legislatif daerah tingkat II laiknya seperti pemilihan presiden.  Kendaraan-kendaraan mewah dengan tampang-tampang caleg sengaja diparkirkan, hingga berkeliling-keliling dalam setiap acara pesta, kebaktian hingga acara marbinda. Teror antar caleg hingga serangan-serangan yang sangat personal sudah menjadi makanan sehari-hari dalam menjatuhkan lawam.  Bahkan diperkirakan, para caleg ini akan mempersiapkan serangan fajar di masa-masa akhir kampanye.

Inilah sesungguhnya yang bisa merusak demokrasi.  Jikalau seorang caleg mau berjuang untuk pembangunan daerahnya, maka omong kosong jika sekiranya pun duduk di kursi legislatif bisa memberikan sumbangsih hanya dengan membeli suara. Kalau level tingkat II, membangunnya pakai apa dengan APBD yang tidak mencukupi.  

Demokrasi bersih melalui pemilu adalah salah satu bentuk syarat mutlak yang harus dipenuhi. Pelaksanaan pemilu yang luber dan jurdil pun memerlukan partisipasi aktif masyarakat dan bukan sebaliknya bahwa masyarakat yang dibeli. Pelaksanaan pemilu yang baik melahirkan harapan yang lebih baik akan masa depan rakyat yang diwakili.

Pemilu partisipatif yang bersih harusnya dirawat dan terus disuarakan kepada masyarakat oleh para Caleg, sebagai salah satu bagian dalam upaya mewujudkan keterlibatan masyarakat dalam proses pengawasan pemilu yang luber dan jurdil. Karena pada esensinya demokrasi adalah pelibatan rakyat secara menyeluruh --"of the people, for the people, and by the people."