BERITA TERBARU

Triptoba-News, TAPANULIUTARA -Jauh di pelosok negeri, berdomisili di Pedalaman Tapanuli Utara bukan menjadi ukuran menghambat kreatifitas.

Dalam segala keterbatasan fasilitas, gadis kembar asal Silakkitang Taput sudah mampu memberikan sumbangsih untuk negeri.

Persoalan kelestarian Danau Toba kini sedang menjadi perbincangan, bahkan baru-baru ini Menko Maritim menggandeng tiga Lembaga untuk meneliti air Danau Toba.

Menyikapi persoalan di Danau Toba, Ivonia R Hutajulu dan Evonia R Hutajulu masih berusia 15 tahun, peka terhadap persoalan yang menimpa Danau Toba akhir-akhir ini.

Siswi SMA N I Tarutung ini berhasil menciptakan solusi. Tidak tanggung, keduanya telah membuktikan dan melalui Lomba Karya Tulis Ilmiah Science Expo 2018 SMA Unggul DEL milik Luhut Binsar Panjaitan itu mereka keluar sebagai pemenang.

Tulisan “Unte Pangir/Jeruk Purut (Citrus hidryx DC) mengantar mereka ke panggung kehormatan perlombaan bergengsi tersebut dan berhasil menyandang juara I pada Senin 17 September 2018 lalu. Memakai "unte pangir" zat-zat protein dan limbah cair organik dalam air akan diendapkan oleh senyawa tannin, saponin, dan falvanoid yang dikandung kulit buah dan daun unte pangir.

Keunikan penemuan Gadis kembar pasangan Daslon Hutajulu dan Lumongga Silalahi ini tidak saja sekedar upaya penjernihan. Temuan ini bahkan mencakup pelestarian Budaya Batak.

Apalagi, di era saat ini katanya jeruk purut sering diidentikkan dengan hak yangg tidak baik, atau berhala. Padahal unte Pangir (Citrus hidryx DC) bukan tanaman yang asing lagi di daerah Sumatera Utara, khususnya bagi orang Batak di kawasan Toba.

Katanya, penggunaan Unte Pangir ini memiliki nilai budaya, yaitu pada saat melakukan adat dan ritual tradisi orang Batak "Marpangir" (mandi dengan unte pangir) di Danau Toba. Penggunaan Unte Pangir juga dapat dimanfaatkan sebagai alternatif dalam menjernihkan air dengan cara yang mudah. Selain menjernihkan kandungan minyak asiri pada unte pangir dapat membantu menghilangkan aroma tidak sedap pada air.

"Kita juga sekaligus ingin menghilangkan stigma buruk yang selama ini melekat pada jeruk purut. Orang-orang yang tidak paham, selalu mengatakan itu berhala. Padahal itu warisan leluhur yang begitu baik manfaatnya"jelasnya.

Kata Ivo, bersama kembaranya Evo tidak gampang menyelesaikan temuan itu. Jangka waktu penulisan yang dia butuhkan hanya 25 hari, yakni sejak 11 Agustus 2018 sampa 04 September 2018.
"Kendalanya, selama penulisan fasilitas kami seadanya. Dan kami terpaksa begadang. Hingga tidur pukul 02 Pagi, "katanya.

Namun, setelah berhasil lelah mereka terbayar. Apalagi, misinya memang untuk menjawab persoalan yang tengah menimpa Danau Toba.

"Saat ini kan Danaubkita sudah semakin rusak. Jadi, apa pun yang bisa kita sumbangkan, marilah kita sama-sama. Apalagi masih banyak yang mengkonsumsi air Danau Toba"jelasnya.

Menurutnya, warga Kawasan Damau Toba sebaiknya membudidayakan tanaman jeruk purut. Selain bernilai ekonomis, fungsinya juga efektif bila sering digunakan di Danau Toba.