BERITA TERBARU

Triptoba-News.  Niat baik pemerintah dalam mengganti bandara Silangit menjadi Bandara Internasional Sisingamangaraja, harus diakhiri.  Hal ini akan menimbulkan efek domino yang tidak baik bagi iklim pariwisata danau Toba dan Taput. Selain itu, dengan adanya berita ini, apalagi Bandara tersebut telah berubah wujud menjadi kelas bandara Internasional, maka akan muncul persepsi yang tidak baik dari daerah lain terhadap masyarakat Tapanuli Utara, khususnya Silangit.

Seperti diketahui, sekelompok masyarakat adat Desa Pariksabungan mendatangi kantor Bupati Tapanuli Utara untuk menolak penggantian nama Bandara Silangit.  Mereka menolak keras pergantian nama Bandara Internasional Silangit menjadi Bandara Internasional Sisingamangaraja XII. Para warga mengaku, dalam mempertahankan nama Silangit sudah begitu banyak darah nenek moyang mereka. Bukan berarti mereka tidak menghargai Sisingamangaraja, mereka sangat menghargainya. Atas dasar kisah pahit yang dialami kakek merekalah, makanya nama Bandara Silangit akan dipertahankan.

Alasan ini bisa diterima, karena sebagian besar rakyat Indonesia juga berjuang dalam mempertahankan negara ini.  Namun tentu saja harus dipilih pribadi yang lebih pas mewakili pejuang yang bisa di jadikan sebagai nama tokoh.  Tokoh ini tentu sudah dikenal umum sebagai, dan sudah tercatat menjadi pahlawan nasional,dikenal di Indonesia maupun Internasional.

Pemahaman ini mungkin bisa disampaikan kepada para pihak yang menolak, agar kiranya bisa memahami dalam konteks yang lebih luas dibanding hanya sekedar nama.

Dalam teori komunikasi marketing, maka proses branding menjadi hal yang penting dilakukan sehingga apa yang di deliver di dalam suatu pemasaran bisa akan lebih mudah, eye catching dan menjadi selling poin.  Jadi persoalannya mungkin terletak pada strategi branding yang harus di pahami sehingga menjual Danau Toba akan lebih mudah.  Ada empat hal yang menjadi catatan penting ketika kita melakukan branding dengan menamakan sebuah objek tujuan wisata.  

Yang pertama adalah apakah nama tersebut lebih kompetitif atau lebih dipercaya dengan sebelahnya.  Brand Kualanamu tentu kalah tenar dengan Sisingamangaraja.  Penamaan/Branding adalah tentang menciptakan suatu hubungan antara Bandara dengan emosi dan kenangan konsumen.

Kedua, beri nickname yang pas, sudah terkenal dan tanpa perlu invetasi besar.  Mohon maaf menamakan Bandara Internasional Sisingamangara tentu akan memberi dampak besar dan aura yang lebih gagah, besar, luas, maju bila dibandingkan dengan Bandara Silangit yang masih terkesan jauh dari kemajuan, apalagi faktanya dari sisi fasilitas masih jauh dari bandara Internasional sesungguhnya. 

Ketiga, advokasi brand Sisingamangara, tentu memberikan kebanggaan tersendiri. 

Keempat, Menambahkan 'kepribadian' dalam kampanye branding nama bandara tersebut. Mempertimbangkan sebuah karakter yang menawan dan abadi, wajar jika Anda berpikir nama bandara tersebut sebagai manusia. Wujud dan karakter seperti apa yang ingin ditampilkan lewat Nama Bandara Internasional Sisingamangaraja.

Kesimpulannya, membuat nama Bandara yang menjadi pintu utama sebuah kawasan harus betul betul menyenangkan dan memberi kenyamanan bagi pengunjung.  Anda tanya orang yang mau berkunjung ke danau toba, ketiga diberi pertanyaan untuk memilih bandara Silangit atau Sisingamangaraja, tentu saja kenyamanan lebih akan dialamatkan ke nama yang kedua ini.

Melihat kepentingan yang lebih besar, maka sudah seharusnya pemerintah lebih tegas, untuk tidak memberi ruang pada mereka yang tidak mau terbuka atas peradaban yang pada akhirnya akan menutup kemajuan Kawasan Danau Toba. Nama bandara Silangit lebih tepat di ganti dengan Bandara Internasional Sisingamangara.  Untuk mengadopsi permintaan pihak-pihak yang menolak, maka bisa diberi nama lain fasilitas  seperti terminal, kafe, dan lain lain.
 
(Oleh Lindur Siburian)