BERITA TERBARU

TripToba-News.  Air Danau Toba Keruh Kecokelatan, Tanda bakal Terjadi Situasi Begini selama 6 Bulan-  Fenomena aneh kembali terjadi di peraian Danau Toba, Samosir, Sumatera Utara, pada Minggu (26/8/2018).

Warna air di danau tektovulkanik itu awalnya biru namun mendadak kecokelatan (keruh). Fenomena sebelumnya telah terjadi dari Jumat (17/8/2018) hingga Minggu (19/8/2018).

Pemandangan ini disaksikan redaksi di wilayah Kaki Gunung Pusuk Buhit, tepatnya di Tanjung Bunga dan sekitar Kecamatan Harian, Kabupaten Samosir.

Akibat fenomena ini, Bulat Limbong, seorang warga Desa Boho Kacamatan Sianjur Mula-mula, Kabupaten Samosir, mengatakan kalau fenomena ini jarang terjadi.

Menurutnya, apabila ada tanda alam seperti itu biasaya akan terjadi kemarau berkepanjangan di Kawasan Danau Toba. 

"Biasanya kalau ada tanda-tanda begini akan kemarau panjang," ujarnya.
Menurut pengalamannya, akibat angin kencang maka gelombang danau meningkat. Kemudian, arus air di dalam mengguncang lumpur yang selama ini mengendap.

Di sisi lain, dia juga bercerita tentang fenomena lain di daerah tersebut. Ada kalanya, pada waktu tertentu muncul gelombang udara sebesar kepalan tangan dari dasar danau dengan jumlah yang banyak disertai air keruh seperti mengandung minyak.
Menurutnya, jika fenomena ini terjadi musim kemarau bisa berlangsung hingga 6 bulan lebih.

Ratusan ton Ikan-ikan mendadak mati

Dalam pemberitaan sebelumnya, akibat terjadinya fenomena ini, Ikan-ikan dalam Keramba Jaring Apung (KJA) yang dipelihara warga mendadak mati yang ada diperairan Danau Toba, tepatnya di Pangururan.

Bangkai-bangkai ikan yang mengambang itu menjadi pemandangan menyedihkan bagi warga sekitar.

Warga dengan semampunya, sejak sore sibuk mengumpulkan bangkai-bangkai ikan ke dalam karung dan diangkut memakai perahu ke daratan untuk dikuburkan.

Penjelasan Saut Simanjorang, seorang warga pengelola keramba di Danau Toba mengatakan, ikan-ikan awalnya satu per satu mengapung ke permukaan. Kejadian itu berlangsung sejak pagi.  Tepat tengah hari, pemandangan sorenya mulai terlihat di keramba-keramba lain.

"Awalnya mengapung satu per satu, lalu bermatian. Kami sedih, "ujarnya. Jenis ikan yang mati beragam ukuran dan jenis.
Ikan yang gampang mati yakni ikan mas.

Selain itu, ikan mujahir dan nila juga bermatian.

Warga menduga, kematian itu diduga karena fenomena perairan air Danau Toba beberapa hari terakhir berubah menjadi kecokelatan (keruh), sehingga ikan kekurangan oksigen.

Sejumlah alat berat diturunkan mengangkut bangkai-bangkai ikan.

Warga juga bergotong-royong membersihkan danau dari bangkai-bangkai ikan.

Diduga Akibat Perubahan Suhu di Perairan Danau Toba

Sementara, Kepala Bidang Perikanan Dinas Pertanian Kabupaten Samosir, Jhunellis Sinaga menduga, kematian medadak jutaan ikan di Danau Toba akibat perubahan suhu air.

"Ini akibat up welling, dugaan sementara terjadi perubahan suhu. Suhu dari dasar danau naik ke permukaan," kata Jhunellis.

Menurutnya, endapan limbah di dasar danau naik ke permukaan dan ikan pun tidak bisa memperoleh oksigen secara maksimal.

Limbah tersebut berasal dari berbagai macam kandungan.
Dikatakannya, data sementara 140 petak kerambah jaring apung (KJA) yang sudah berisi bangkai.

Tak tanggung, bila ditaksir berat-berat ikan mati tersebut mencapai 180 ton.

Ikan-ikan teridiri dari mujahir, nila, dan ikan mas.

Keseluruhan ikan yang mati itu sudah siap panen.

Diimbau untuk Tidak Berenang di Air

Kadis Pariwisata Samosir Ombang Siboro mengimbau agar pelaku wisata lebih memperhatikan kondisi alam.

Wisatawan yang pergi pergi ke arah lokasi tersebut untuk sementara waktu agara tidak berenang di air yang saat ini sedang mengeruh.

Selain itu dia juga menilai, hal ini berhubungan dengan pemakaian air Danau Toba oleh PT Inalum di Sigura-gura.

Dia menduga, pemakaian air yang berlebihan menyebabkan debit air Danau Toba berkurang.

Dia beranggapan volume air menurun dan Danau Toba semakin dangkal.

Seorang pemilik KJA bermarga Nadeak mengatakan, akibat kejadian itu mereka merugi hingga Rp 5 miliar.

Tanda-tanda kejadian tersebut bermula pada .

" Kami merugi sekitar Rp 5 miliar-an, ikannya sejak Senin (21/8/2018) sore enggak mau makan dan berada di dasar semua. Jadi kita sempat berusaha memberikan oksigen dengan cara memompa," jelas Nadeak.