BERITA TERBARU

Tragedi Pilu Tenggelamnya Kapal Sinar Bangun, menghilangkan lebih dari 100 Nyawa tanpa jejak.  selain itu kapal diduga membawa  65 sepeda motor. 20 sepeda motor diantaranya adalah Vespa komunitas yang melakukan touring keliling daerah. Ditambah penumpang 185 orang.

Hal yang sangat memilukan adalah bahwa informasi kalau benar jumlah yang selamat hanya 18 orang, sementara jumlah kepala yang tampak berjuang hidup dan berteriak-teriak minta tolong tampak dalam video yang beredar lebih dari 50 orang, meninggalkan sejumlah pertanyaan besar. Bagaimana persisnya penanganan kedaruratan dan rasa kemanusiaandi perairan kita ini?

Kapal besar yang melintas pun tampak hanya melemparkan 1 pelampung seadanya. Masakan tidak ada pertolongan lain? Lagi kultur refleksi kita sudah kian memudar, lebih banyak yg sibuk foto dan video ketimbang berusaha berbagi alat pertolongan. Dari darat pun tampaknya sebagian tahu ada kejadian di danau. Dan lagi, besoknya di web salah satu pemkab ada foto2 tim dengan life jacket naik speedboat, disimpan dimana itu life jacket dan speedboat, di rumah kah? Foto-foto tersebut dan simulasi mutar-mutarnya sudah terlambat. Semalaman telah berlalu korban tidak mungkin mengapung lagi tanpa pelampung.

Dua puluh tahun melintasi danau ini, berkalikali kejadian serupa terjadi, persoalannya selalu sama, pengusaha dan penguasa daerah tidak serius mengurusi keselamatan kita. Keberpihakan kepala daerah dan aparatnya sangat kami harapkan lebih dari sekedar unjuk keprihatinan.

Itulah darurat dan tragedi pilu yang saat ini menyelimuti kawasan danau Toba.  Hilangnya rasa kemanusiaan, peradaban.  Bagaimana mungkin kapal ferry besar SUMUT-2 meninggalkan penumpang yang teriak teriak minta tolong ditinggalkan begitu saja hanya dengan alasan penumpangnya banyak yang sudah mabuk.

Inilah kepiluan yang paling dalam dan duka yang paling pahit bahwa saat ini jiwa dan kepedulian masyarakat dikawasan danau Toba telah hilang.  Asik bersosialisasi dengan Gadget sebagai perusak peradaban dan telah meniadakan pilunya rasa kemanusiaan.

Mari kita berdoa semoga Tuhan yang maha kuasa memberika mujijat dan pertobatan bagi kaum ini sehingga kelestarian budaya dan alam tetap terjaga tanpa ada yang hanya memikirkan dirinya sendiri.

Oleh : Lindur Siburian
Komunitas Peduli Danau Toba