BERITA TERBARU

Dalam suatu acara kebudayaan di  Bona Pasogit seorang tokoh yang sangat dikenal di TAPUT menanyakan saya sebuah pertanyaan, bahwa sebagai anak rantau asal TAPUT dan sudah cukup dikenal di Ibukota, siapa sebaiknya Bupati TAPUT dan Gubernur SUMUT yang tepat pada pilkada 2018 ini.  Memang Sekian lama pesta demokrasi berjalan dan telah melahirkan Gubernur SUMUT  maupun Bupati TAPUT silih berganti, namun saya tidak pernah memberikan pendapat, karena menurut saya dengan membaca peta politik pusat, maka pada saat itu yang diperebutkan masih dalam skala kelas kampung yang tidak berdampak besar bagi kemajuan wilayah ini.  Namun kalau saat ini ditanya pendapat saya, maka demi kemajuan TAPUT kedepan dan Kawasan Danau Toba umumnya, jawaban atas pertanyaan di atas sangat sederhana, yaitu pilihlah pemimpin The President Man.  Analisisnya di bawah ini.
Sumatera Utara, suka atau tidak, secara jelas ada ketimbangan pembangunan jika  dibandingkan dengan Provinsi lain di wilayah Sumatera seperti  Riau, Palembang, Aceh dan Lampung.  Dengan jumlah penduduk 14.1Juta dan luas wilayah 72,981 KM2 dan potensi sumberdaya alam yang ada, tentu sangat bertolak belakang dengan  fakta ini.  Pembangunan Infrastruktur seperti jalan dan pelabuhan yang sangat jauh tertinggal,  kesenjangan antar wilayah  kabupaten kota dan tidak adanya konektivitas yang efektif,  pertumbuhan ekonomi  yang lamban, produksi domestik dari sektor pertanian, industri pengolahan, pariwisata, jasa dan perdagangan yang tidak maksimal menjadi bukti nyata hal ini. 
Selain itu, potret  ketertingggalan sumber daya manusia dan kemiskinan,  ketahanan pangan, energi dan sumber daya air serta mitigasi bencana yang masih belum meyakinkan dan angka pengangguran daerah yang tinggi maka diperlukan pemimpin yang bisa  menata dan melakukan reformasi birokrasi, tata kelola pemerintahan, penegakkan hukum dan pencegahan korupsi yang selama ini menjadi label bagi SUMUT maupun TAPUT khususnya.
Berdasarkan data statistik dari BPS, garis kemiskinan SUMUT, naik 3% dalam kurun waktu 7 bulan tahun ini. Garis kemiskinan di perkotaan naik 3,10% dan garis kemiskinan di perdesaan naik 2,81% pada kurun waktu yang sama.   Dengan demikian, jumlah penduduk miskin di Sumatera Utara saat ini sebanyak  1.326,57 ribu orang (9,28% dari populasi).   

Total APBD Sumut 2017 sebesar Rp 12 triliun, dan di tahun 2018 diperkirakan sebesar  Rp 13 triliun.  Bandingkan dengan Riar sebesar Rp  10 Triliun dengan jumlah penduduk hanya 5.7 juta Orang. Sedangkan APBD TAPUT sepanjang tahun 2017 adalah sebesar Rp 1.1 Trilun sangat jauh dari harapan untuk mengejar ketertinggalan wilayah yang selama berpuluh-puluh tahun seperti negeri tanpa arah dan perubahan.
Lalu yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana caranya mendobrak pertumbuhan ekononomi serta mengejar ketertinggalan dari provinsi maupun kabupaten lain ditengah keterbatasan dan minimnya  APBD  yang dimiliki oleh provisinsi SUMUT maupun APBD Kabupaten TAPUT khususnya.    Jawabannya adalah kemauan dan political will pembangunan dari pusat melalui perintah Presiden kepada para pembantunya.  Artinya apabila ingin Sumatera Utara Maju, dan Kawaban Tapanuli Utara Maju, maka diperlukan tangan-tangan yang tidak kelihatan (invisible hand) dalam mendorong pembangunan.  Ambil contoh, selama sekian tahun kawasan danau toba tidak ada perubahan pembangunan kalau tidak ada keinginan dari Presiden sebagai kepala negara.  Selama sekian tahun pula dan sekian periode bupati TAPUT silih berganti, namun pembangunan di  Muara sebagai salah satu kawasan wisata utama di Tapanuli Utara, maupun  pembangunan jalan raya dan peningkatan status Bandara Silangit sebagai pintu masuk ke kawasan Danau Toba tidak akan pernah direalisasikan.  Apabila mengandalkan APBD TAPUT maka hal ini sangat mustahil. 
Kita boleh bersyukur adanya kemurahan Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah mengaruniakan seorang Presiden Jokowi di dalam memimpin negara ini dan memiliki kepedulian kepada  kawasan pembangunan danau Toba.  Kalau dilihat dari porsi pembangunan maka tentu terlihat Kabupaten Tobasa, Samosir dan Taput yang memiliki loncatan terbesar dari pembangunan selama 5 tahun terakhir ini. Inilah yang menjadi kata kunci didalam analisa saya sehingga saya bisa berkesimpulan bagaimana gubernur dan Bupati betul-betul bisa senada dengan taste Presiden bisa menghasilkan pemimpin yang betul betul si nada dengan rasa dengan taste Istana maupun orang-orang yang tekait di sekelilingnya.  Sebab, jika berbicara mengenai pembangunan di SUMUT/TAPUT tidak bisa dilepaskan dari politik anggaran.  Untuk mencapai ini, maka diperlukan Loby-loby khusus dari Bupati/Gubernur  terpilih nantinya agar bisa “merayu” pusat untuk  mengarahkan anggaran pembangunan khusus dalam memajukan SUMUT dan TAPUT  ke depan.  
Apabila melihat trend elektabilitas calon Presiden 2019, maka bila Tuhan berkehendak, Jokowi akan menjadi presiden Indonesia pada tahun 2019, dan PDIP akan menjadi Partai mayoritas dan pemenang Pemilu 2019.  Dengan kondisi ini, mari kita tarik ke bawah dan kita mencoba merenung apabila hal ini menjadi kenyataan, maka tentu kita bisa berharap SUMUT dan TAPUT sebaiknya dipimpin oleh the Presidetn Man maupun mereka yang memiliki kedekatan dengan Partai Penguasa di DPR dalam hal ini PDIP.  Hal ini telah dibuktikan Bupati saat ini yang telah memimpin TAPUT, dimana Bandara Silangit telah berubah wujud secara drastis menjadi International Air Port dan  menjadi pintu masuk utama bagi Kawasan Tapanuli.  Selain itu, Muara yang awalnya hanya sebagai wilahayah terpencil telah bertransformasi menjadi menjadi objek Wisata yang luar biasa nerkat pembangunan jalan raya dan infrastruktur lain.   Tentu ini tidak lepas dari kedekatan dan upaya Bupati melobi pihak Istana.  Tidak ada yang bisa membantah ini.
Siapa Calon yang menjadi “The Presiden Man” di SUMUT dan TAPUT 
Pilkada SUMUT 2018, dengan mundurnya JR Saragih, maka tinggal menyisakan dua calon.  Pasangan pertama adalah pasangan  Edy Rahmadi –Ijek yang didukung oleh partai oposisi pemerintah sebagai pendukung utama yaitu Gerindra dan PKS.  Calon kedua adalah  Djarot Saiful Hidayat-Sihar Sitorus yang keduanya adalah calon dari PDIP dan menjadi Tokoh sentral di PDIP.
Pilkada TAPUT, terdiri dari 3 pasangan yakni, Chrismanto Lumbantobing dan Hotman Hutasoit, Jonius Taripar Parsaoran Hutabarat dan Frengky Simanjuntak, serta Nikson Nababan dan Sarlandy Hutabarat.  Walau 3 pasangan, namun saat ini yang bersaing ketat adalah kubu Nikson Nababan dan Jonius Taripar. Kubu Nikson yang juga adalah pengurus teras PDIP didukung oleh PDIP, Golkar, Nasdem, PKB, dan PAN.  Sedangkan JTP didukung oleh Partai Gerindra, Hanura, PKPI, dan Demokrat. Dari format ini sangat kelihatan bahwa kubu Nikson menjadi calon Bupati dari partai lingkaran pemerintah berhadapan dengan JTP dari kubu “opsisi”.  Dan saat ini, konstruksi persepsi tema kampanye diarahkan ke sana.  
Di Pilkada SUMUT dan TAPUT, memang saat ini hawa persaingan sangat terasa apalagi di TAPUT.  Tapanuli Utara yang menjadi kabupaten tertua di  Tapanuli, polarisasi sangat terlihat jelas dan bukan tidak mungkin akan menimbulkan gesekan yang bisa memicu adanya perpencahan.  Gaya kampanye dengan isu menyerang pribadi jauh lebih menonjol dibandingkan dengan program dan strategy membangun TAPUT ke depan khususnya kawasan wisata Muara menjadi tujuan utama wisata TAPUT disamping objek lainnya.
Kesimpulan
Hati tetap panas, namun kepala tetap dingin.  Demikian nasehat bagi kita masyarakat TAPUT dan SUMUT agar tetap jernih dan rasional dalam memandang TAPUT dan SUMUT kedepan seperti apa. Mari kita renungkan betul bahwa yang kita perjuangkan itu apa maknanya.   Kita boleh berjuang untuk memenangkan seseorang, namun setelah itu apa yang bisa dilakukan dia.  Apakah janji-janji saja bahwa bisa melakukan ini dan itu, sementara dia hanya mengandalkan anggaran yang hanya cukup bayar gaji dia dan pegawainya serta operasional pribadinya tanpa ada pembangunan lain yang lebih besar.  Kalaupun ada niat mau melobi ke Pusat, maka dia harus cukup memiliki modal kedekatan yang jauh lebih penting ketimbang sekedar proposal.  Atau sebaliknya kita bisa berfikir bisa mendukung dan memenangkan seseorang yang sudah terbukti secara nyata baik kiprah dan integritas serta memiliki jaringan dan akses kepada pemangku kekuasaan di pusat, sebab dia adalah The President Man?    Mungkin kita bisa punya alasan personal bahwa kita mendukung seorang calon karena fakta hubungan keluarga/marga maupun hubungan bisnis, sebaiknya dilupakan sejenak, sebab hal ini akan sia sia saja,  apa yang akan terjadi jikalau yang anda pilih itu menang.  Apakah dia adalah The Presiden Man atau hanya penguasa lokal nantinya yang bisanya hanya ongkang-ongkang kaki karena tidak ada hal apapun yang bisa dilakukan. Kemampuan anggaran yang dimiliki cukup untuk membayar acara seremonial saja.
Jadi untuk SUMUT, TAPUT yang lebih baik, pilihan tepat saat ini adalah memilih si dia yang masuk ke lingkaran The President Man.  Gubernur/Bupati dalam ini akan memiliki multiplier effect  lebih dalam memimpin TAPUT atau SUMUT ke depan.
Ir. Lindur Siburian, MM
Praktisi, Profesional  tinggal di Jakarta
Anggota Kehormatan ILC dan Pendiri Forum Peduli Muara
Sekjend PAM (Parsadaan Anak Muara)